TV Rakyat — Hampir satu pekan berlalu, tak satu pun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar luput dari antrean panjang kendaraan. Tetesan keringat di bawah terik matahari karena menunggu berjam-jam tak menjamin bahan bakar bisa dibawa pulang. Tak hanya di bawah terangnya matahari, cahaya rembulan turut menemani si pemilik kendaraan yang masih setia mengantre.
Bahkan bagi mereka yang beruntung sampai di posisi depan, harapan pun dibatasi. Jumlah pembelian diketatkan. Setiap motor hanya boleh membeli maksimal 50 ribu dan mobil 300 ribu. Pembatasan tersebut membuat sebagian warga hanya bisa membawa pulang beberapa liter setelah berjam-jam menuntun kendaraannya untuk bisa mencapai antrean depan.
Dilansir dari lama detik.com, salah satu warga yang mengantre mengatakan "Rencana mau isi penuh, tapi katanya cuma bisa 50 ribu. Sekitar 2 jam antre".
Selain warga, petugas SPBU, turut mengatakan hal serupa. "Iye Rp 50 ribu ji bisa diisi (motor). Kalau mobil Rp 300 Ribu,"
Kelangkaan makin tidak terkendali. Puncaknya terjadi pada Jumat (11/9/2026), antrean kendaraan mengular hingga tujuh kilometer di sepanjang Jalan Perintis Kemerdekaan. Tujuh kilometer bukan sekadar angka. Ia adalah potret betapa kebutuhan energi warga Makassar yang juga poros ekonomi Indonesia timur telah ditarik ke ambang ketidakpastian total.
Kondisi ini membuat masyarakat Makassar hidup dalam ketidakpastian. Bagaimana dapat berjalan ke kantor. Bagaimana mengantar anak-anak sekolah. Bagaimana dapat mengantarkan pasokan bahan makanan ke daerah-daerah lain. Pertanyaan lain yang terus berputar jika mendapatkan BBM saja sulit. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi yang memastikan kapan distribusi BBM akan kembali normal.