Loncat ke konten
News

Lebih dari Sebulan Diselimuti Kabut Asap, Hujan Akhirnya Turun di Pontianak

Setelah lebih dari sebulan diselimuti kabut asap karhutla, hujan deras akhirnya turun di Pontianak pada Jumat (4/9/2026) sore. Warga bersukacita, namun hujan satu hari tidak menyelesaikan persoalan yang berulang setiap musim kemarau.

Editor Redaksi 2 menit baca 3 kali dibaca
Lebih dari Sebulan Diselimuti Kabut Asap, Hujan Akhirnya Turun di Pontianak — News

TV Rakyat — Setelah lebih dari sebulan menanti, warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, akhirnya kembali merasakan guyuran hujan. Jumat (4/9/2026) sore, hujan yang turun cukup deras di sejumlah kawasan disambut antusias warga, bukan sekadar ritual membasahi tanah kering, melainkan napas lega pertama setelah kota lama diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Selain membasahi tanah, hujan membuat udara terasa lebih segar. Namun di balik sukacita itu, tersimpan kenyataan yang layak digarisbawahi: hujan ini datang setelah lebih dari sebulan warga menghirup udara berbahaya — dan ia bisa saja tidak datang sama sekali.

Upaya yang Terkendala Alam

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalbar bersama Pemerintah Kota Pontianak mengklaim terus melakukan upaya penanganan karhutla dan dampaknya. Operasi modifikasi cuaca (OMC) berulang kali disiapkan, namun berulang pula terkendala karena tak ada bibit awan hujan yang bisa dimodifikasi. Pada akhirnya, hujan yang turun Jumat sore itu adalah hujan alami: tidak bisa diklaim sebagai hasil operasi, tetapi juga bukti bahwa tanpa hujan alami, segala rencana teknis hanyalah wacana.

Pemerintah Kota Pontianak juga mengampanyekan penggunaan masker, menyediakan air bersih, serta menyiapkan fasilitas layanan kesehatan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Hujan Turun, Masalah Belum Selesai

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono sebelumnya menyampaikan pemerintah kota terus menangani dampak kabut asap bersama instansi terkait dan pihak lainnya. Layanan kesehatan disiagakan, imbauan diperkuat langkah-langkah reaktif yang memang wajib dilakukan ketika udara sudah terlanjur tercemar.

Namun hujan satu hari tidak menghapus persoalan satu musim. Titik api di lahan gambut dan hutan bisa kembali menyala ketika kemarau memanjang, dan pendekatan "tangani dampaknya, tunggu hujannya" berarti warga Pontianak akan selalu menjadi penyambung nyawa pertama di setiap musim karhutla.

Pertanyaannya bukan lagi kapan hujan turun, melainkan berapa lama lagi Pontianak harus bergantung pada kebaikan langit sementara di darat, lahan terus dibuka dengan cara yang sama setiap tahunnya.

Diskusi

Komentar (0)

Sudah punya akun? Masuk supaya nama terisi otomatis. Komentar tamu ditinjau redaksi sebelum tayang.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Berita terkait

Ketika Makassar Mulai Krisis BBM — News
News

Ketika Makassar Mulai Krisis BBM

Hampir sepekan SPBU di Makassar dipenuhi antrean dari siang hingga malam. Pembelian dibatasi maksimal Rp50 ribu untuk motor dan Rp300 ribu untuk mobil. Antrean mengular 7 km di Jl. Perintis Kemerdekaan dan belum ada kepastian kapan distribusi BBM normal.

· Editor Redaksi · 2 menit baca