Loncat ke konten
News

Gunung Anak Krakatau Belum Selesai Beraktivitas, Kembali Erupsi pada Kamis Pagi

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Kamis (10/9/2026) pukul 09.10 WIB selama sekitar 17 detik. Meski intensitasnya menurun, PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan tetap menjauhi radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Editor Redaksi 2 menit baca 7 kali dibaca
Gunung Anak Krakatau Belum Selesai Beraktivitas, Kembali Erupsi pada Kamis Pagi — News

Pada Kamis (10/09/2026), Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan tajinya. Gunung yang berdiri gagah di tengah Selat Sunda itu kembali aktif mengeluarkan magma di dalam perut bumi. Gempuran itu hanya berlangsung selama 17 detik, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa Anak Krakatau belum selesai dengan aktivitasnya.

Berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tinggi kolom erupsi tidak teramati secara visual. Kegempaan erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 47 milimeter.

Kabar menenangkan datang dari tren aktivitasnya. Secara visual, intensitas erupsi Anak Krakatau menunjukkan penurunan dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Namun dalam dunia vulkanologi, tren penurunan bukanlah tiket untuk lengah. Gunung berapi tidak membaca grafik yang kita buat; ia bekerja dengan jamnya sendiri, dan sejarah Anak Krakatau sendiri adalah sejarah tentang betapa cepat ia bisa berubah.

Maka imbauan PVMBG tetap berdiri tegak: masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang mendekati gunung atau melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Imbauan itu bukan formalitas. Ia adalah garis batas yang menentukan siapa yang pulang dengan selamat dan siapa yang menjadi korban kecerobohan.

Persoalannya, imbauan radius tiga kilometer hanyalah satu sisi mitigasi. Di sisi lain, kawasan sekitar Anak Krakatau adalah kawasan wisata dan penyangga kehidupan nelayan serta warga pesisir. Ketika aktivitas vulkanik meningkat, pertanyaan yang muncul bukan lagi seberapa jauh warga harus menjauh — melainkan seberapa siap sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan tempat pengungsian jika skenario terburuk benar-benar terjadi.

Diskusi

Komentar (0)

Sudah punya akun? Masuk supaya nama terisi otomatis. Komentar tamu ditinjau redaksi sebelum tayang.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Berita terkait