JAKARTA — Langkah Timnas Indonesia menuju final FIFA ASEAN Cup 2026 mendapat perhatian dari media olahraga Italia, Corriere dello Sport. Sorotan tersebut muncul setelah skuad Garuda memastikan tempat di partai puncak dengan kemenangan telak 9-2 atas Bangladesh di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Berdasarkan keterangan resmi PSSI yang disampaikan pada Sabtu (3/10/2026), Corriere dello Sport menyoroti keberhasilan Indonesia mencapai final yang bertepatan dengan momentum empat tahun Tragedi Kanjuruhan.
Pencapaian tersebut dinilai menjadi bagian dari perjalanan panjang transformasi sepak bola Indonesia. Perkembangan Timnas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan daya saing, seiring dengan berbagai pembenahan yang dilakukan dalam sepak bola nasional.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum PSSI Erick Thohir, transformasi sepak bola menjadi salah satu fokus utama. Pembenahan tersebut mencakup tata kelola organisasi, peningkatan profesionalisme, penguatan tim nasional, pembinaan pemain usia muda, hingga pemanfaatan potensi pemain diaspora Indonesia.
Dalam wawancaranya dengan Corriere dello Sport, Erick Thohir menggambarkan Indonesia sebagai “raksasa yang sedang tidur”. Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya potensi sepak bola Indonesia yang dinilai masih membutuhkan pengelolaan secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Kanjuruhan Menjadi Titik Balik
Erick Thohir juga menempatkan Tragedi Kanjuruhan sebagai salah satu titik balik penting dalam proses pembenahan sepak bola nasional.
Empat tahun setelah tragedi tersebut, Timnas Indonesia justru berhasil mencatatkan pencapaian dengan melangkah ke final FIFA ASEAN Cup 2026. Momentum tersebut memberikan makna tersendiri bagi perjalanan sepak bola Indonesia.
“Empat tahun lalu, kita kehilangan 135 saudara kita di Kanjuruhan. Sebelum pertandingan kita mengheningkan cipta untuk mengenang mereka, lalu para pemain berjuang sampai menit ke-97 untuk membawa Indonesia ke final,” kata Erick Thohir.
Menurut Erick, perjalanan tersebut tidak semata-mata berbicara mengenai hasil pertandingan. Lebih jauh, sepak bola Indonesia dinilai sedang menjalani proses belajar dari berbagai peristiwa masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik.
“Bagi saya, ini bukan sekadar tentang menang dan kalah. Ini tentang bagaimana sepak bola Indonesia belajar dari masa lalu dan terus bergerak maju,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan harus tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan sepak bola nasional. Ingatan tersebut menjadi pengingat agar pembenahan yang dilakukan dapat menghasilkan ekosistem sepak bola yang lebih profesional, membanggakan, sekaligus memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi para suporter.
Mengheningkan Cipta Sebelum Pertandingan
Nuansa penghormatan kepada para korban Kanjuruhan juga terlihat sebelum pertandingan Indonesia menghadapi Bangladesh di SUGBK.
Seluruh elemen yang berada di stadion mengheningkan cipta selama satu menit sebelum kick-off sebagai bentuk penghormatan dan mengenang para korban Tragedi Kanjuruhan.
Setelah itu, Timnas Indonesia tampil dan memastikan kemenangan 9-2 atas Bangladesh. Hasil tersebut sekaligus mengantarkan skuad Garuda ke partai final FIFA ASEAN Cup 2026.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu capaian penting dalam perjalanan Timnas Indonesia di tengah proses transformasi sepak bola nasional.
Pada partai final, Timnas Indonesia dijadwalkan menghadapi Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026).
Pertandingan tersebut akan menjadi kesempatan bagi skuad Garuda untuk menuntaskan perjalanan mereka di FIFA ASEAN Cup 2026 sekaligus mempersembahkan prestasi bagi masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, perjalanan menuju final juga menjadi pengingat bahwa kemajuan sepak bola nasional tidak hanya diukur dari kemenangan di atas lapangan, tetapi juga dari kemampuan seluruh ekosistem sepak bola Indonesia untuk terus berbenah, belajar dari masa lalu, serta menciptakan pertandingan yang aman, profesional, dan membanggakan.