TV Rakyat — Apple akhirnya mengikuti jejak pabrikan lain dengan merilis ponsel lipat pertamanya. Pada 9 September 2026, di markas besarnya di Cupertino, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu memperkenalkan iPhone Duo dengan layar dalam 7,6 inci, layar luar 5,4 inci, cip A20 Pro, dua baterai, dan banderol harga US$1.999 atau sekitar Rp35 juta untuk varian paling murah.
CEO Apple John Ternus menyebut perangkat ini sebagai "perubahan paling transformatif pada iPhone sejak versi aslinya". Klaim besar tersebut layak digugat: jika iPhone orisinal mengubah cara manusia berkomunikasi, iPhone Duo justru datang di tengah krisis kebiasaan digital yang jauh dari selesai.
Dua Layar, Dua Front Pertempuran
Apple memberi nama Duo karena perangkat ini memiliki dua layar. Layar luar menjaga notifikasi tetap menyala, layar dalam 7,6 inci — yang disebut Apple "50% lebih besar dari iPhone 18 Pro Max" — menjadi kanvas baru bagi konten tanpa henti. Kecerahan hingga 3.000 nit bahkan memastikan layar tetap terbaca di bawah terik matahari.
Namun datanya berbicara lain. Kementerian Kesehatan menemukan gejala cemas pada 4,4% anak atau sekitar 338 ribu jiwa, dan gejala depresi pada 4,8% atau sekitar 363 ribu jiwa, dari sekitar 7 juta anak yang menjalani skrining Cek Kesehatan Gratis periode 2025–2026. Menkes Budi Gunadi Sadikin menilai temuan itu bukti bahwa masalah kesehatan jiwa anak "besar sekali".
Survei Global School-Based Student Health Survey mencatat lonjakan anak yang pernah mencoba bunuh diri dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023. Sementara survei I-NAMHS menaksir 15,5 juta remaja Indonesia hidup dengan masalah kejiwaan, tetapi hanya 2,6 persen yang mengakses layanan konseling.
Bukti Ilmiah Semakin Rapi
Riset mengenai doomscrolling — kebiasaan menggulir berita buruk tanpa henti — memperlihatkan pola yang konsisten. Shafaq Iqbal dan Shayan Iqbal dalam tinjauan 14 studi dari tujuh negara pada rentang 2023–2026 menemukan doomscrolling berkaitan dengan depresi di 11 studi, kecemasan di 12 studi, distres psikologis di 10 studi, dan gangguan tidur di 8 studi, dengan ukuran efek sedang (d = 0,28–0,55).
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mencatat fitur infinite scroll memperkuat kebiasaan tersebut karena platform tidak menyediakan batas alami yang menghentikan pengguna. Jonathan Haidt, psikolog sosial penulis The Anxious Generation, menyebut ponsel pintar sebagai "experience blockers" dan menuding periode 2010–2015 sebagai masa "Great Rewiring" yang mengguncang kesehatan mental remaja.
Di tengah kondisi itu, iPhone Duo hadir justru menghapus salah satu pembatas terakhir: ukuran layar.
Indonesia, Juara Screen Time
Soal durasi layar, Indonesia sudah lama berada di barisan terdepat. Menko PMK Pratikno pada Juni 2025 menyebut rata-rata screen time masyarakat Indonesia lebih dari 7,5 jam sehari. Laporan We Are Social dan DataReportal 2026 mencatat waktu daring warga Indonesia lebih dari lima jam per hari, hampir seluruhnya melalui ponsel. Global Digital Reports 2026 menempatkan Indonesia di peringkat ke-16 dunia untuk durasi penggunaan media sosial, sekitar 3 jam 7 menit per hari, di atas rata-rata global 2 jam 39 menit.
Dengan skema cicilan US$83,29 per bulan selama 24 bulan, Apple secara harfiah menawarkan konsumen untuk "mencicil doomscrolling" selama dua tahun. Analis Forrester Dipanjan Chatterjee memperingatkan ponsel lipat berisiko menjadi "pajangan berharga mahal" di etalase Apple — perangkat gengsi, bukan mesin pertumbuhan. Ben Wood dari CCS Insight menyebut seluruh perangkat lipat di dunia baru menguasai sekitar 2% penjualan ponsel pintar.
Fitur Pembatas vs Algoritma
Apple sendiri menyadari persoalan ini. Fitur Screen Time, Downtime, App Limits, dan Focus sudah disiapkan. Namun semuanya bertumpu pada satu asumsi: pengguna masih memiliki kemauan penuh pada jam satu pagi. Padahal algoritma tidak bekerja dengan kemauan — ia bekerja dengan kantuk.
Apple membuka pre-order iPhone Duo pada 16 Oktober dan mulai menjualnya pada 23 Oktober. Indonesia belum masuk daftar negara gelombang pertama.
Di titik ini, satu pertanyaan layak diajukan kepada perusahaan yang paling paham soal desain: kapan terakhir kali pengguna menggulir sesuatu yang tidak membuatnya membenci dunia? Jika jawabannya sulit ditemukan, masalahnya bukan pada ukuran layar. Doomscrolling tidak butuh layar 7,6 inci — ia hanya butuh ibu jari yang tidak pernah lelah.