Loncat ke konten
Nasional

Lebih dari 50 Hari Karhutla di Kalimantan Belum Padam, Relawan Bertahan di Tengah Asap

Lebih dari 50 hari melawan karhutla di Kalimantan, para relawan terus bertahan di garis depan di tengah kepungan asap dan panas. Keteguhan mereka mengingatkan bahwa pencegahan kebakaran hutan memerlukan kerja bersama, bukan sekadar pertaruhan nyawa segelintir sukarelawan setiap musim kemarau tiba.

Editor Redaksi 2 menit baca 3 kali dibaca
Lebih dari 50 Hari Karhutla di Kalimantan Belum Padam, Relawan Bertahan di Tengah Asap — Nasional

Jakarta, TV Rakyat — Lebih dari 50 hari sudah api bergulir di hutan dan lahan Kalimantan. Dan lebih dari 50 hari pula, para relawan pemadam kebakaran berjibaku di garis depan — tanpa gembar-gembor, tanpa kepastian kapan semua ini berakhir.

Di tengah kepungan asap pekat, suhu membakar, dan abu yang menutupi sisa-sisa vegetasi, mereka tetap turun ke lapangan. Satu per satu titik api dipetakan, dikepung, dan dipadamkan. Namun pekerjaan itu tidak pernah benar-benar selesai. Angin berhembus, bara bergeser, dan api kembali menyala di titik yang lain.

Kondisi udara yang kian memburuk — membuat napas terasa berat bahkan hanya untuk berjalan beberapa langkah — ternyata tidak cukup kuat untuk meluruhkan langkah mereka. Dengan peralatan seadanya, para relawan terus bertahan. Bukan karena mereka kebal terhadap bahaya, tetapi karena mereka tahu: jika mereka mundur, api akan maju.

"Yang kami hadapi bukan cuma api. Ada asap, panas, dan kelelahan yang menumpuk sejak hari pertama," ujar salah satu relawan di lokasi kebakaran. "Tapi selama masih ada titik api, kami tidak bisa berhenti."

Namun di balik keteguhan itu, perjuangan mereka membuka luka lama persoalan karhutla di Tanah Air. Setiap tahun, musim kemarau selalu diiringi oleh kabar yang sama: hutan terbakar, udara tercemar, masyarakat terdampak, dan relawan kembali diturunkan. Pertanyaannya kemudian mengemuka: mengapa pencegahan selalu kalah oleh kebakaran? Mengapa dukungan dan infrastruktur pemadaman kerap datang terlambat, sementara yang berada di garis depan justru warga dan relawan swadaya?

Perjuangan lebih dari 50 hari ini bukan sekadar kisah heroik. Ia adalah pengingat keras bahwa karhutla bukan bencana alam belaka — ia adalah persoalan tata kelola. Pencegahan memerlukan keseriusan sejak musim hujan, penegakan hukum yang tegas terhadap pembakar hutan, serta komitmen nyata dari semua pemangku kepentingan.

Menjaga lingkungan bukan tugas segelintir relawan yang berjibaku di tengah asap. Ia adalah tanggung jawab bersama — pemerintah, korporasi, dan masyarakat. Karena selama kepedulian hanya datang setelah api berkobar, asap akan terus datang setiap tahunnya. Dan para relawan akan terus menjadi benteng terakhir yang menahan amuk api, hampir tanpa pilihan lain.

Diskusi

Komentar (0)

Sudah punya akun? Masuk supaya nama terisi otomatis. Komentar tamu ditinjau redaksi sebelum tayang.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Berita terkait